Kita Tidak Tahu Kapan Kita Mati

Tulisan ini merupakan dedikasi saya terhadap Sumiyati binti Ali Hadiwardoyo. Budhe, ibu kedua, serta kerabat yang mewarnai masa kecil saya untuk tumbuh menjadi seperti sekarang. Beliau meninggal pagi ini, jam 2 dini hari, dibersamai dengan penyakit yang telah bertahun-tahun di derita-nya. Bahwa memang kematian lebih baik daripada menderita seumur hidup. Tentang bagaimana perjuangannya, tentang bagaimana beliau berjuang untuk tidak merepotkan lagi anggota keluarganya.

Tentu manusia tidak akan luput dari kesalahan yang membersamai dalam kehidupannya. Kehidupan memang kejam, namun justru dalam kehidupan itulah pembelajaran tentang manusia dipertemukan. Bahwa kematian adalah jalan terbaik untuk beliau, untuk bertemu dengan sesepuh yang telah mendahului. Apa yang hadir dalam kematian adalah kesadaran bahwa kehidupan tidaklah ada yang abadi. Apa yang akhirnya diperjuangkan akan diakhiri dengan menghadap kiblat untuk membentuk konstruksi kehidupan itu sendiri. Semua tidak akan ada artinya, tidak akan ada manfaatnya ketika kita melakukan hanya sekedar mencari eksistensi diri saja.

Benar, bahwa kita tahu akan mati kapan? Bukankah kita akan mati dengan cara masing-masing. Tentu kehidupan juga akan memberikan pengajaran tentang kehidupan itu sendiri. Selamat jalan Budhe, semoga kita semua dipertemukan dengan keadaan yang lebih baik.

Apakah Dunia ini Hanya Menang dan Kalah?

Kita sebenarnya ada dalam dunia kompetisi yang tiada akhir. Sejak zaman manusia diciptakan, anak Nabi Adam AS telah berkompetisi. Setidaknya itu yang dipercaya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia itu sendiri.

Kita ini hanya menjadikan diri sebagai bagian dari dunia. Kehidupan memang sebenarnya menjatuhkan, tapi kita akan selalu mendapatkan kemenangan yang entah akan menyenangkan atau hanya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan itu sendiri. Mumet? Podo.

Brati aku menang.

Apalagi yang Akan dibangun?

Jumat ini merupakan penentuan untuk masuk ke tahap berikutnya, tentang kehidupan yang telah diimpikan bertahun-tahun lalu. Betapa pengorbanan tentang kehidupan begitu berat. Kehidupan tidak serta merta mudah untuk dilakukan. Tapi nyatanya, memang harus dilakukan, dan dijalani secara baik.

Kemudian ketika ini semua berakhir, akankah kebahagiaan akan diciptakan, tentang bagaimana kehidupan tidak lagi menantang. Tidak lagi dengan segala kekurangannya. Dan kita akan hidup dengan damai. Tidak, tentu tidak, kehidupan tidak semudah itu untuk dibangun dengan baik. Lalu kemudian ketika semua capaian yang telah didapatkan hari ini, akan menjadi sejarah, lalu apa?

Sepertinya tantangan, hanyalah tantangan, tentang menyadari kehidupan sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri. Tentang bagaimana kita mengakhiri hidup dengan baik. Tentang bagaimana kita menyelesaikannya dengan baik, dan tentu berkesan untuk manusia yang lain. Bukankah kita harus terus bernafas untuk sekedar menukar oksigen dengan kehidupan yang kita sendiri banyak menghabiskan kenangan di dalamnya?

Kita ini hanya manusia yang sebenarnya tanpa kitapun dunia akan seperti ini. Lalu, apalagi yang perlu dibangun?

Menunggu

Kita ini sesungguhnya sedang menunggu datangnya kematian. Tanpa kematian, manusia akan bersikeras bahwa dirinya akan bisa menguasai dunia. Tentang mengunggu ini, manusia hanya akan menjadi makhluk yang sebenarnya makhluk. Menyadari tentang waktu menunggu, akhirnya akan menunjukkan kebenaran tentang diri, tentang kehidupan itu sendiri.

Waktu mungkin akan sedikit memberikan perpanjangan tentang menunggu ini. Waktu juga akan menjawab tentang apa yang sedang kita tunggu. Tapi sebenarnya kita ini sedang dalam keadaan menunggu seperti apa? Apakah pada akhirnya menunggu menyenangkan untuk dilakukan. Tapi memang, kebutuhan tentang menunggu tidak akan bisa selesai hanya dengan kehidupan yang begitu-begitu saja.

Selamat menunggu, selamat menikmati kehidupan dalam penantian yang entah akan menjadi apa pada masa depan.

Nadi Kehidupan

Merasa bahwa kita telah mendapatkan sesuatu merupakan nikmat yang begitu berharga dalam kehidupan itu sendiri. Melihat orang-orang mengerjakan kehidupan dengan baik, dan akhirnya membentuk kehidupan mereka sendiri. Senang rasanya orang-orang menemukan nadi kehidupan mereka. Menjadikan diri ini berbangga, bahwa ada manusia yang telah mencapai titik mereka sendiri.

Merasakan nadi kehidupan adalah keberkahan tersendiri. Melihat orang-orang kecil mengais rejeki sebagai bagian dari syukur sebagai manusia, dan pada akhirnya membentuk pengalaman mereka sendiri. Ya, nadi kehidupan begitu kecil untuk dirasakan. Untuk menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia itu sendiri.

Menemukan mereka, memberika kita semangat untuk menjalani kehidupan. Memberikan pengetahuan tentang kehidupan itu sendiri.

Belajar Kembali Dengan Masa Lalu

Insitut Seni Indonesia (ISI) merupakan rumah kedua dalam pemikiran pembelajaran diri ini. Setelah Universitas Sebelas Maret (UNS) yang menjadi dasar dari semua akar pemikiran seni yang hari ini bersemanyam. Dan hanya Allah yang memberikan untuk tubuh ini, sebagai bahan pembelajaran, sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan yang nantinya akan dipertanggungjawabkan sebagai bagian dari pemberian-Nya.

Angin mendung sepertinya tidak menghentikan langkahku untuk menemui salah satu Guru Besar yang baru dikukuhkan tahun lalu. Prof. Dr. Drs. Guntur, M.Hum. Teringat di tahun 2016, ketika Pak Guntur menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kelulusan magister. Penguji Utama, merupakan jabatan yang membuat cukup alot dalam penggunaan Fenomenologi Heidegger. Seperti mendarahdaging, pemikiran tentang penguji yang sulit untuk meluluskan, tapi juga menjadi bagian penting dalam Thesis yang ditulis.

Masa-masa itu, aku melihat betapa besarnya pemikiran dari Pak Guntur, sebagai seorang Rektor setelah lulus magister. Selang beberapa tahun, tidak menemui, tidak pula berdiskusi intens dengan beliau, kemarin adalah hari yang bersejarah. Aku kembali belajar bahwa:

Waktu akan menjawab kebenaran yang manusia tutupi.

Betul bahwa Prof Guntur, sebaiknya aku mulai membiasakan pemanggilan ini, kita ini didewasakan oleh keadaan, dan dibuktikan dengan waktu. Melalui hal itu, aku melihat betapa membuminya sapaan pertama, sampai berbagai petuah yang beliau berikan kepada kami. Seperti mengulang perkulihan beberapa tahun lalu. Rasa segan kini menyelimuti ketika beliau berkata, “kita ini selama hidup, hanyalah mengumpul-kumpulkan doa dari banyak orang.” Mendalam sebenarnya, tidak bisa dipungkiri, titik mukti telah muncul, sebagai guru.

Terakhir ketika berbagai petuah sebagai seorang akademisi berakhir, permintaanku untuk beliau adalah, kesediaan untuk menguji nanti di Kelayakan. Ada rasa, inilah saatnya untuk mengkonstruksi kembali segala pernyataan-pernyataan yang pernah keluar dari mulut ini.

Mengingat Kembali Tujuan

Kita sering lupa dengan keseharian yang begitu banyak menghasilkan sampah-sampah pikiran. Memang keseharian melenakan, kadang tanpa terasa sudah sepanjang ini perjalanan kehidupan yang telah kita lalui. Bahkan puasa Ramadhan 30 tahun terlewati, seperti baru kemarin aku minta tandatangan untuk buku presensi sholat tarawih ketika SD. Begitu cepat, dan tidak disangka akan sampai pada titik ini.

Disamping begitu banyak orang-orang yang pamer pencapaian, yang kadang, kita sampai dalam hati bicara, “Wah, beruntungnya dia, ya.” Ada rasa kecil hati dengan pencapaian yang telah kita dapatkan hari ini. Padahal sekedar bisa hidup saja, sudah seharusnya banyak berterima kasih. Tentu hal ini tidak akan lepas dengan rasa syukur yang seharusnya melekat dalam diri.

Mengingat kembali tujuan merupakan satu hal yang diperlukan oleh manusia untuk menjadikan manusia itu manusia seutuhnya, manusia yang memikirkan kehidupan yang begitu pelik dan kompleks. Memang rasanya berat apabila membentuk tujuan kita kembali sebagai bagian dari kehidupan manusia. Tapi dengan berpegang pada tujuan, tentu kehidupan tidak serta merta mudah untuk dihempaskan begitu saja.

Dengan mengingat kembali tujuan, kita akan menghadapi kenyataan dengan lebih bersemangat, bersinergi dengan kehidupan untuk menjadi insan yang lebih baik ke depan.

Pagi, Kenangan

Menunggu kehidupan tidak akan selesai dengan sendirinya. Bukankah harus dijalani sebagai sebuah anugrah yang nantinya akan kita pertanggungjawabkan kelak di akhirat. Pada akhirnya kita akan menjalani kehidupan dan menghasilkan kenangan yang nantinya membentuk diri ini menjadi sekarang.

Apa yang kita hadapi hari ini adalah apa yang kita usahakan, bukankah begitu? Muncul kenangan-kenangan yang mungkin kita akan ingin kembali ke sana, tapi apalah daya, kita hari ini adalah bentukan kenangan yang telah kita buat sendiri. Mengadanya kenangan karena kita menghadapi kenyataannya. Setiap pagi ada masalah yang akhirnya membentuk konstruksi pemikiran kita berubah, mungkin akan tetap, tapi kita cenderung terpengaruhi apa yang kita pikirkan.

Setiap pagi, nyawa terkembali dari mati sementara, namun kenangan akan selalu ada. Kita akan menghadapi pilihan, bersama kenangan kita terlarut, atau biarkan kenangan tetap menjadi kenangan. Apa yang hadir dalam kenangan setidaknya memberikan kita pembelajaran tentang kehidupan itu sendiri. Tentang bagaimana kita menghadapi kehidupan yang penuh dengan misteri.

Seharusnya kita selalu menyapa-nya setiap pagi. Menerima menjadi bagian dari kehidupan kita sendiri. Tentang bagaimana kenangan itu menggenangi diri dengan air mata yang entah karena apa menangis. Kita selalu disibukkan dengan meninggalkannya, terlepas dari dirinya, dan menghakimi diri, kita telah terbebas darinya. Setidaknya pagi dengan kenangan yang menyenangkan akan memberikan kehidupan yang baik untuk dijalani hari ini. Dalam kenangan kita terlempar pada masa lalu, tapi kita masih bisa memilih untuk hadir sebagai diri kita pada hari ini karena adanya kenangan kita sendiri.

Kita sendiri terjebak ada tubuh yang akhirnya memiliki keterbatasan fisik, padahal dalam kenangan terdapat mimpi-mimpi yang melebihi kehidupan itu sendiri. Seperti keinginan kita bisa terbang dengan fisik, tapi nyatanya kita membutuhkan besi dan mesin untuk bisa terbang sesungguhnya. Jadi sebenarnya, kita ini sedang berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kenangan kita sendiri, melalui tubuh yang semakin tua, semakin lemah ini.

Tidakkah kita sadar?

Membiasakan Diri pada Kehidupan

Melewati keseharian, merupakan kewajiban manusia ketika hidup di dunia, dan terus menerus akan bereksistensi untuk membentuk manusia di dunia itu sendiri. Tentang bagimana manusia makan, hidup, berkehidupan dalam masyarakat dan membiasakan diri di dalamnya. Namun, apakah pembiasaan ini dirasakan oleh banyak manusia? Tentu tidak bisa seperti itu, setiap manusia memiliki intepretasinya tentang kehidupan dengan cara dia sendiri.

Kebiasaan dalam berkehidupan akan terus menerus berkembang seiring pertumbuhan manusia itu sendiri. Tentang bagaimana kita menyerap apa yang ada disekitar kita untuk membentuk diri kita saat ini. Pembentukan diri juga tidak akan selesai dengan adaanya stimulus yang terus menerus masuk dalam diri. Dia akan membentuk diri menjadi bagian yang tidak terpisahkan untuk mendefinisikan manusia itu sendiri.

Sedangkan kehidupan tidak serta menyenangkan untuk dilewati dengan mudah. Membiasakan diri dalam kehidupan juga akan berimbas pada masa depan yang ingin kita bangun. Semua bergantung pada mimpi-mimpi yang akhirnya membentuk diri kita menjdai bagian yang tidak terpisahkan dari diri kita.

Membiasakan diri untuk terus menyertai kehidupan, tidaklah mudah, karena kita terlena dengan keseharian yang membuat kita lupa sebenarnya kemana tujuan hidup yang sesungguhnya. Membiasakan memang tidak semudah apa yang dikatakan, tapi dengan membiasakan, kita akan terbawa pada kehidupan sesuai dengan waktu kita.

Menyadari Bernafas

Apa yang penting dalam hidup adalah membentuk diri dengan tetap bernafas. Menyadari bernafas adalah usaha untuk menyadari bahwa diri kita adalah manusia itu sendiri. Bernafas membuat manusia menyuplai oksigen yang digunakan untuk supply pemikiran, perbuatan, serta sikap. Dengan menyadari bernafas kita mampu mengontrol tubuh untuk selalu melakukan apa yang bisa kita kontrol. Tidak dipungkiri, ketidakkesadaran merupakan hal yang menyebalkan ketika disadari sebagai sebuah tindakan.

Layaknya kita berbuat khilaf, sepertinya semua tidak sadar dilakukan, tapi nyatanya terjadi. Hal ini disupport oleh olah tubuh yang akan menyempitkan pikiran kita sendiri. Menyadari bernafas membuat kita tau bahwa kita masih hidup dan sadar dengan apa yang akan kita perbuat ke depan. Setidaknya kita memulai dengan menyadari diri, dan pada akhirnya akan menyadari bahwa kita akan mati.

Setidaknya.